alh4mzah@gmail.com
Deli Serdang - Sumatera Utara

EL-HAMZAH

Bahagia vs Celaka
Home » Artikel  »  Bahagia vs Celaka
Bahagia vs Celaka

Sesungguhnya kenikmatan yang diberikan Allāh kepada hamba-hambaNya, baik berupa ilmu pengetahuan, harta, kedudukan, kekuasaan, dan sebagainya merupakan cobaan dan ujian dari Allāsubhanahu wa ta'ala kepada hamba-hambaNya. Sebagaimana Allāh menguji hambaNya dengan suatu musibah, begitu pula Dia menguji hambaNya dengan suatu kenikmatan.

Dengan ujian dan cobaan tersebut dapat diketahui hamba yang bersyukur dan hamba yang kufur, hamba yang bahagia dan hamba yang celaka.

Allāsubhanahu wa ta'ala berfirman tentang Nabi-Nya Sulaiman ketika melihat singgasana Balqis di hadapannya,

"Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)”. (Q.S An-Naml: 40)

Allāsubhanahu wa ta'ala berfirman yang artinya,
 “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata: "Tuhanku telah memuliakan-ku". Namun apabila Tuhannya menguji- nya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". (Q.S Al-Fajr : 15-16)

Yakni, tidak setiap hamba yang dilapangkan rizkinya dan diberi kesenangan merupakan kemuliaan dari Allāh baginya. Dan tidak setiap hamba yang Allāh sempitkan rizkinya dan ditimpa musibah merupakan kehinaan Allāh baginya, akan tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian dari Allāsubhanahu wa ta'ala  bagi hamba-hamba-Nya.

Ibnu Al-Qayyim berkata,
”Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya.
Setiap bertambah amal-amal shalih yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalan- kan perintah Allāh.
Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah ambisi-ambisi keduniaannya.
Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberianya kepada sesama.

Jika bertambah tinggi ke- mampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati kepada mereka.
Dan di antara ciri-ciri kecelakaan adalah ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya.

Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaan- nya pada orang lain.
Semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah pula kesombongannya.”

Perkara-perkara tersebut merupa- kan ujian dan cobaan dari Allāsubhanahu wa ta'ala terhadap hamba-hambaNya. Oleh karena itu, mari kita mengevaluasi diri, Apakah kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menang dan bahagia ataukah orang yang celaka?

Karena mengenali diri merupakan hal yang sangat penting. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  mengajarkan kepada kita untuk lebih banyak mengevaluasi diri sendiri daripada mengevaluasi orang lain. Sebagaimana sabdanya,
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ. رواه الترمذي
“Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa
nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah subhanahu wa ta'ala.”
 [H.R At-Tirmidzi (2459), ia berkata, hadits hasan.]

Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu  berkata,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا.
“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab dan
berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu hanya akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya di dunia.”

Sementara Maimun bin Mihran mengatakan,
لاَ يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ
“Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab
dirinya sebagaimana dihisab temannya darimana makanan
dan pakaiannya 
.”

Begitu juga Ibnu Al-Qayyim berkata,
Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk untuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.

Semoga Allāh membimbing hati dan langkah kita untuk tetap memiliki karakter orang-orang yang bahagia. Dan semoga Allāh menjauhkan hati kita dari karakter orang-orang yang terpedaya oleh ilmu, amal dan kemampuannya yang dapat menjerumuskan kita kedalam golongan orang yang celaka.


(Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fawaid karya ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cet. Daru Ibnu Al-Jauzi, hlm. 168 dengan sedikit tambahan dan perubahan)


One thought on “Bahagia vs Celaka

  1. Assalamualaikum, artikel yang sangat menyentuh.
    Oya akhi, Afwan, Blog nya agak telat dikit siapnya, insya Allah dalam waktu dekat akan segera selesai dengan izin Allah, 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.